Wednesday, April 6, 2011

[FF] Puber Kedua

"Bukan saya yang mengejar, tapi Bapak." ucapannya membuat ibu Min, tak dapat berkata-kata karena menahan emosi. Bagaimana bisa ia berkata begitu, sementara ia sudah merusak rumah tangga orang lain. Dari kejauhan putrinya menatap penuh kebencian, namun bibirnya melukis senyum saat sang bunda menatapnya lekat.

Ia tahu seperti apa belang ayahnya, tapi memilih diam dan berpura-pura tak tahu. Ia tak ingin bundanya lebih sedih lagi karenanya.

"Kamu nggak makan, Nak?"
"Nanti," Jena menjawab sekenanya. Ia sedang tak ingin berbicara pada sosok didepannya.
"Siapa Era?" tanyanya tiba-tiba.
"Era mana?"
"Ayah tahu siapa yang ku maksud," ia pun berlalu tanpa menunggu reaksi ayahnya.

Selama ini Jena merasa aneh dengan perubahan sang ayah yang lain dari biasanya, tapi ia tak pernah menduga jika beliau ternyata sedang mengalami puber kedua.

Monday, April 4, 2011

[FF] Private Number

Sudah berkali-kali private number selalu menghubungi ponselku. Aku yang tadinya cuek, lama-lama kesal juga. Akhirnya ku jawab juga, tapi aku memilih tak bersuara dan ternyata diseberang pun tak bersuara.

Private number sekarang rutin mengangguku. Andai ku tahu siapa, pasti sudah ku marah-marahi dia.
"Siapa sih ini?!" gerutukku kesal, melempar ponselku ke kasur.
"Awas saja kalau ku tahu siapa!" seruku setengah mengancam.

Entah siapa yang iseng, entah siapa yang kurang kerjaan, entah siapa yang seakan menerorku.

Dari pada pusing-pusing, kuputuskan mengganti nomer. Sayang sebenarnya, apa lacur dari pada setiap sore private number terus mengahantui, ku pilih jalan ini.

"Nomermu ganti ya?"
"Iya, habis sebal juga lama-lama diteror." akupun memberitahukan nomer baruku pada Lena.

Setidaknya untuk beberapa waktu aku terebebas. Sampai...
"Lagi?! How...?"

...private number...
aku mendiamkannya, ku silent akhirnya

Saturday, April 2, 2011

[FF] Akhir Ku dan Keluargaku

Aku lari dari apa?
Mengapa aku berlari?

Dengan terengah-engah, ku memilih merapat kedinding. Aku berusaha mengatur nafas sambil sesekali menyeka air mata yang tak henti.


Flashback,
"Ma, Pa, bisakah kalian tak berpisah. Bertahanlah, ku mohon..." dengan tatapan memelas gantian ku melihati mereka. Mataku basah sudah.
Apa lacur, seperti yang pernah mama katakan sebelumnya. Sewaktu-waktu beliau akan 'meledak'. Dan itu terjadi pagi ini.


Mama menggeleng pelan, papa membuang muka. Ku yakini mereka, walau ku tahu jauh sebelumnya tentang belang papa dibelakang kami, namun aku memilih diam. Kusembunyikan rapat. Karena bagiku keluarga ini adalah segalanya.


Papa keluar dengan tas ditangan, sambil berkata akan mengirimkan surat cerai secepatnya. Mama tak kalah galak, beliau masuk ke kamar, membanting pintu. Aku jatuh terduduk dan menangis sejadinya. Ini kah akhir keluargaku...
"Pa, aku sayang padamu. Apa yang wanita itu lakukan padamu?"
"Ma, aku juga sangat sayang padamu. Aku tahu ini begitu menyakitkan..."


Aku bangkit dan mulai berlari, berlari, dan terus berlari.


Ku lanjut untuk berlari,
"Ughh..."
Apa ini? mengapa terasa sakit. Aku memagangi perutku, saat ku lihat kedua tanganku penuh darah, aku terperanjat. Dan lebih mengejutkan lagi saat ku berbalik, aku melihatnya...wanita itu...
"Kau..."
Ia tersenyum dingin padaku.
"Pa..."
Tubuhku limbung...
"To...lo...ng..."

Wednesday, March 23, 2011

[FF] Bohong

"Sara, tunggu!" Galuh mengejar Sara yang tiba-tiba saja keluar dari cafe dengan terburu-buru. Saat ia berhasil menarik lengan Sara. Sara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa buru-bu..."
Sara tak menjawabnya, ia kembali melangkah. Dengan segera meraih telpon genggamnya dari dalam kantung roknya. Ia mendial no.1

my lovely dady

"Papa, dimana?"
"Di rumah. Kenapa, dek?"

Langkah Sara terhenti. Tubuhnya lemas...
Galuh mencoba menopangnya. Ia terlihat cemas dengan perubahan tiba-tiba sahabatnya itu. Ada apa sebenarnya? Mengapa ia lari begitu mereka tiba di cafe tadi? Apa yang ia lihat sebenarnya? Begitu banyak pertanyaan yang ia sendiri tak tahu akan mendapat jawabnya atau tidak.

"Tinggalkan aku," pinta Sara dengan suara yang terdengar serak.
"Tapi..."
"Aku ingin sendiri..." Sara menatapnya.
"Berjanjilah kau akan baik-baik saja,"

Galuh melepas rangkulannya, ia membiarkan Sara menghilang dalam kerumunan banyak orang. Tapi diam-diam ia mengikuti. Ternyata Sara kembali ke cafe yang tadi. Galuh terlihat syok saat mengenali sosok lelaki yang di tatap Sara dengan tatapan nanar.

"Bukankah itu..." Galuh menbekap mulutnya. Ia melihat Sara berjalan mendekati meja lelaki itu.

"Pa..."
sama seperti Galuh, sosok lelaki itu pun syok melihat kehadiran Sara. Begitupun dengan wanita disampingnya.

Friday, March 18, 2011

Virus Merah Jambu





Islamedia - “Sebuah fenomena tak pantas itu terlihat dihadapan salah seorang aktivis dakwah kampus..

Akh pulan sedang berboncengan dengan ukhti….???

jadi benar dugaan ikhwah ikhwah selama ini? Bahkan beberapa ikhwah melihat dua orang aktivis dakwah kampus ini tengah asyik makan berdua pada sebuah rumah makan..
mereka pacaran???

“Astaghfirullah…”

Thursday, March 17, 2011

Sister and Me

Duduk termenung menatap langit malam. Terbayang-bayang masa lalu, akankah senyum itu kan menghilang? Akankah suara-suara rutin itu tak lagi menghampiri? Akankah tawa-tawa renyah itu kan menguap? Akankah guyonan itu tak lagi terdengar? Ia kan pergi, maka mengapa harus ku tahan. Inilah yang ku tunggu, inilah yang ku nanti. Senyum. Ya, senyum bahagianya yang ingin ku lihat. Senyum sumringahnya yang ingin ke rekam dalam ingatan. Menggantikan semua linangannya, sedihnya, dukanya, pun juga perihnya.

Mengenang masa lalu memang indah, namun kini adalah kini tak usahlah terlalu terikat dengan masa lalu. Cukuplah yang lalu sebatas kenangan, kenangan manis dan pahit.

Tuesday, March 15, 2011

Jika Ia Tidak Ada Maka Carilah...


Islamedia - Dia seorang aktivis dakwah yang aktif. Kehadirannya dalam halaqoh tak pernah ia tinggalkan. Sampai saat sakit pun ia tetap menghadiri halaqoh, kerinduannya pada saudara-saudaranya telah melenyapkan sakit yang dideritanya. Hingga pada suatu hari ia menghilang untuk beberapa saat. Tak ada kabar, tak ada berita tentang keadaannya. Sampai suatu saat, dalam sebuah agenda dakwah saudara-saudaranya melihat sosok yang selama ini seakan hilang ditelan bumi. ya, dia bertemu dengan saudara-saudaranya di sebuah acara tasqif di teras Masjid Baitul Hikmah Duta Bintaro. saudaranya yang melihat kehadirannya lantas dengan bertubi-tubi menghujani dengan berbagai pertanyaan dan sindiran yang menyesakkan dadanya. Ia begitu sedih dengan hal tersebut, dan dengan nada sedih ia pun menjelaskan semuanya. 


“afwan ya ukhty, jika selama ini ana tidak pernah muncul dan yang lainnya. Justru ana sedih saat ana sedang berkabung teman teman terdekat malah tidak ada di sisi ana.”